Kita Dapat Terbang dan Berenang ternyata
April 6, 2010
Seandainya kita adalah seekor burung, terbang adalah hidup kita
Terbang adalah alasan adanya sayap ini.
Pernah terpikirkan seandainya kita terbang dan jatuh? Tidak tahu karena memang kita tidak pernah diajarkan untuk jatuh!
Oh, ternyata bukan itu saja, kita justru mati ketika hinggap di dahan manakala ada seekor ular besar mengintai
Seandainya kita adalah seekor ikan, berenang adalah juga hidup kita
Berenang adalah alasan adanya insang dan sirip ini.
Kita pun akan mati jika tidak pernah berhenti berenang manakala seekor hiu atau baling-baling kapal mendekat
Kita bisa seperti mereka, tapi, saya bohong, karena kita bukan burung, apalagi ikan! Kita tidak pernah bersayap apalagi berinsang… kita pasti jatuh dan mati ketika memaksakan diri mengepakkan tangan kita turun dari gedung 100 lantai. Kita juga pasti akan mati ketika memaksakan diri ketika menenggelamkan diri di lautan pasifik. Bodoh jika ingin disamakan dengan burung atau ikan itu. Namun, kita dapat terbang setinggi-tingginya dengan impian di kepala kita, bahkan dapat berenang sedalam-dalamnya lautan dengan hati kita. Tak perlu takut untuk jatuh ketika impian membawa kita terlalu tinggi karena ada hati yang telah mampu menguasai lautan terdalam. Tak perlu takut untuk mati kehabisan nafas dilautan terdalam ketika impian kita mampu mengangkat kita lagi menghirup udara.
Ketika burung saja berani terbang sementara kita lebih baik dari mereka, sayangkah jika kita hanya berdiam saja dan tak punya impian?! Sayang sekali karena kita dibekali kemampuan untuk takut dan harap. Sebuah potensi yang kontradiktif, takut akan kegagalan, dan berharap akan keberhasilan. Karena menurut saya, di sanalah letak syukur dan sabar berada ketika mengejar impian kita.