Burung gak pernah Diajarkan untuk Jatuh!
April 13, 2010
Sebenarnya gw terinspirasi aja pas nonton Discovery Channel yang sedang menjelaskan bagaimana seekor induk burung mengajarkan anaknya terbang. Gw berpikir, burung itu kan walau bagaimanapun adalah hewan darat, terbang adalah caranya untuk berpindah tempat dan mencari makan. Kemampuan untuk terbang mungkin kekhususan yang diberikan kepada hewan unggas ini. Meski demikian, pada masanya, burung akan mati dan membusuk di daratan, hancur oleh mikroorganisme yang ada di darat. Memang sudah kodratnya bahwa makhluk hidup akan kembali ke asalnya.
Kalau kita membayangkan jadi induk burung tadi, kita pasti juga akan mengajarkan anak kita untuk terbang, bahkan terbang lebih hebat dari kita sendiri agar mampu mencari makan lebih baik lagi. Anggap saja, anak kita yang baru lahir tadi, masih berupa telur dan anak burung yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada kita sebagai induknya. Anak kita hanya menciap-ciap meminta cacing atau makanan kecil lain. Pada waktunya, anak ini akan semakin besar, bulu di sayapnya sudah mulai tumbuh dan besar. Dalam hati, induk burung pasti sudah mengetahui kalau saat ini adalah waktunya si anak untuk diajarkan terbang. Mungkin yang dirasakan oleh induk burung tadi kalau demikian anaknya sudah diajarkan terbang, tentu dia akan segera pergi, terbang, membentuk koloni baru entah dimana, dan dilupakanlah si induk burung tadi sebagai ibu yang selama ini memberi makan dan mengajarinya “untuk meninggalkan” si ibu.
Si anak burung tadipun akhirnya perlahan – lahan mampu terbang rendah setelah dilatih sekian lama oleh si ibu tersebut. Awalnya hanya bisa terbang rendah dari dahan ke dahan pohon, lalu dengan semakin lebatnya bulu di sayap dan berkembangnya pundi-pundi hawa, titel anak burung yang selama ini melekatpun harus segera dicopot menjadi burung dewasa yang secara stamina seharusnya dapat lebih handal terbang daripada induk yang mengajarkannya.
Satu hal yang gw belum pernah lihat di Discovery Channel, kartun, atau acara TV apapun adalah tidak ada induk burung yang mengajarkan anaknya apa yang harus dilakukan bilamana terjatuh ketika terbang. Jika memang benar demikian, apa maksudnya? Apakah induk burung tersebut tega membiarkan anaknya terjatuh ketika terbang, ketika ada pemangsa burung dengan ukuran lebih besar yang mengintai. Dan kalau memang benar-benar seperti itu, pupuslah kesempurnaan dari menikmati pemandangan darat dari atas langit, hilang deh kesempurnaan dari penglihatan yang lebih luas dengan jangkauan tak terbatas dari udara, dan hilang jugalah kesempurnaan-kesempurnaan lainnya.
Tapi, gw juga baru inget kalau bagaimanapun burung adalah hewan darat, artinya tidak ada kodrat yang dilanggar, semua yang ada pada di burung apakah itu kemampuannya untuk terbang dan kesempurnaan lainnya menjadi tampak sangat logis jika memang kenapa si induk burung tidak mengajarkan anaknya bagaimana untuk terjatuh, agar si burung ini ingat kodratnya, bahwa sejauh kemanapun pergi, darat adalah tempatnya hinggap dan akhirnya juga mati disana.
Tapi, gw juga bohong, bohong kalo gw membandingkan, kita manusia dengan hewan burung. Kita manusia tidak diajarkan terbang, apalagi diajarkan untuk jatuh. Apakah itu artinya kita ga lebih baik dari burung tadi?
Hmmm..menurut gw, bagaimanapun burung ga bisa dibandingkan dengan manusia karena kodratnya sudah berbeda, tetapi dari burung tadi kita dapat ngambil banyak contoh kalo manusia itu jauh lebih sempurna daripada burung. Kalau induk burung mengajarkan anaknya terbang untuk mencari makan, ibu kita mengajarkan kita untuk terbang mengejar mimpi dan cita-cita yang tidak ada batasnya dengan memberi kita kasih sayang, pendidikan,dsb. Jadi, ibaratnya kalau burung hanya mampu terbang setinggi lapisan atmosfer yang ia mampu tembus, manusia dengan mimpinya dapat terbang melebihi lapisan atmosfer terluas hingga tak berhingga. Ada yang sama, kita mungkin akan meninggalkan ibu kita ketika kita berangkat terbang mengejar cita-cita atau impian kita tadi.
Kalau induk burung tidak mengajarkan bagaimana untuk terjatuh, kita manusia gak seperti itu. Satu lagi kebohongan gw tadi ketika membandingkan manusia dengan burung. Ibu kita, tidak pernah lupa mengatakan kata-kata yang kira-kira seperti ini “kejarlah cita-citamu dimanapun dan ingat selalu dengan TuhanMu”. Dari kata ingat selalu dengan TuhanMu pasti mengandung banyak makna, misalnya jangan lupakan ibadah kita, jangan lupakan keluargamu, jangan lupakan orang-orang disekitarmu. Jangan melupakan hal-hal tersebut bukan berarti adalah sebuah kewajiban kita untuk membalas jasa budi atau sebangsanya, tetapi itu jadi kebutuhan kita agar selalu ingat untuk berhati-hati atau dengan kata lain ibu kita sedang mengajarkan kita untuk tidak terjatuh ketika “terbang” tadi. Bahwa, kita bisa terbang kemanapun kita mau mengejar cita-cita atau impian kita, mungkin banyak tantangan, suka dan duka, yang mampu menjatuhkan, tetapi akan selalu ada keluarga dan orang-orang disekitar kita yang selalu siap sedia menjadi tempat berpulang untuk beristirahat, untuk menangis mungkin, atau yang lainnya yang pasti adalah hal-hal yang membuat kita tidak benar-benar terjatuh ketika terbang, melainkan hanya istirahat sejenak di darat.