Simplifikasi dengan Osilasi
May 2, 2010
Tulisan ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita untuk selalu positif thinking dan terus berpikir ke depan, berusaha untuk membuat semua yang terjadi tampak mudah. Bagi siapun yang sedang dilanda masalah apapun itu yang biasanya membuat hati kita begitu resah, pikiran begitu berat, dan lain-lainnya yang membuat kita hidup segan dan mati gamau, mungkin perlu mencari caranya sendiri untuk menyikapi sebuah permasalahan.
Ada beragam cara orang untuk mengatasi masalahnya, dan beberapa di antaranya sangat unit. Ada yang kalau ketimpa masalah, dia akan langsung makan yang banyak banget atau ada juga yang dengan menghaburkan uang untuk belanja barang-barang yang terkadap tidak benar-benar dibutuhkan. Bahkan, ada juga yang spesifik, misalnya langsung aja tidur, siapa tahu pas bangun keadaan berubah, dan ada juga mungkin yang berani bunuh diri! Wah .. jangan sampai itu terjadi sama kita deh..
Intinya mah kalo orang lagi dilanda hal-hal yang ngebuat kita hidup segan dan mati gamau itu, dia pasti ingin mengalihkan pikirannya dari masalah atau dengan kata lain lari dari masalah, atau bisa juga dibilang kalau dia gamau ambil pusing, toh uda ga ada apa-apa lagi yang bisa diusahain. Antara masalah sugesti atau memang itu logika yang masuk akal untuk menghibur diri karena kalau ada masalah, logikanya adalah dicari solusi yang menjawab permasalahan tersebut.
Nah, gw ada sedikit pemikiran tentang bagaimana cara kita mereduksi kegalauan yang melanda hati dan pikiran kita, yaitu dengan menyadari bahwa suka dan duka adalah hal yang wajar dan semua adalah kehendakNya, tapi bagi beberapa orang, hal itu masih sulit diterima apalagi bagi mereka yang berpikiran terlalu amat sangat eksak sekali. Tuhan tentunya menciptakan ilmu pengetahuan bukan tanpa tujuan, mungkin 1+1 = 2 tidak selalu didefinisikan demikian, tetapi bisa berarti secara kontekstual bahwa dengan bersatu kita akan lebih kuat, dan sebagainya yang kadang-kadang hikmahnya itu nyerempet kehidupan kita sehari-hari.
Tau tentang osilasi kan? Yang ada fungsi trigonometrinya itu, seperti gambar dibawah ini nih :
Dari salah satu prinsip ilmu pengetahuan yang notabene tentunya didapat dari hukum alam yang tentunya juga ciptaan Tuhan YME, yaitu keseimbangan alam atau kekekalan massa atau kekekalan energi yang intinya dari prinsip tersebut menggambarkan kehidupan kita sehari-hari. Memang hanya sebuah analogi sederhana yang disangkutpautkan dan ternyata analogi yang bakal gw sampein ini rasanya cukup masuk akal.
Kembali lihat ke kurva di atas, kurva di atas terdiri atas dua fungsi persamaan yang tidak diketahui nilainya pada setiap titik, tetapi variablenya diketahui, sehingga kita dapat mengetahui dimana titik maksimum atau minimum berada. Kira-kira, hidup bisa dianalogikan seperti itu, kita tidak pernah tahu fungsi persamaan hidup kita yang maksudnya kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, dan seterusnya, tetapi kita diberi kesempatan untuk mengetahui beberapa titik-X sebagai petunjuk sehingga kita dapat merencanakan atau memprediksi dan kemudian kita berusaha. Pedoman kita adalah variabel-variabel yang kita ketahui yaitu waktu (sumbu-X) dan kejadian sehari-hari (sumbu-Y). Maksudnya kita tahu kalau waktu itu terus berjalan dan diberjalannya waktu itu banyak hal yang kita temui apakah suka atau duka, tapi satu hal yang pasti, sayangnya, kita tidak pernah tahu fungsi persamaan kita akan berhenti di sumbu-X berapa dan sumbu-Y berapa.
Lalu, bagaimana kita menyikapi kalau kita tidak pernah tahu dititik sumbu-X berapa kita akan berhenti atau boleh dikatakan mati, melainkan hanya variabel yang diberikan. Ini adalah kekurangan informasi yang harus kita syukuri. Kita tidak akan tahu kapan kita berakhir agar kita manusia tidak berhenti berusaha dan berdoa di waktu yang ada bersama dengan naik turunnya kehidupan kita sehari-hari. Bisa diambil sisi positifnya kalau ini adalah sisi sensasi dari relatifitasnya Einstein yang bisa disangkutpautkan kalau kita tidak akan pernah merasa sangat senang kalau belum merasakan sangat sedih, dan sebaliknya. Seperti halnya siang dan malam aja, manusia tidak akan bisa istirahat kalau tidak mengenal malam.
Kita masuk lebih dalam lagi, di atas tadi uda gw sebut tentang keseimbangan atau kekekalan, nah sekarang mungkin adalah intinya. Coba lihat lagi kurva dua warna tersebut di warna kurva biru identik dengan kejadian-kejadian sehari-hari yang tidak mengenakkan dan kurva warna merah itu identik dengan kejadian-kejadian yang menyenangkan sehari-harinya. Perhatikan titik (0,2), kurva biru berada di atas atau bidang positif, sedangkan kurva merah di bawahnya pada bidang negatif. Maksudnya adalah pas kita sedang sangat sedih yang memuncak pada bidang positif, dan pada saat itu selalu dibarengi dengan keputusasaan kalau kesenangan berada pada titik nadirnya yang sepertinya sudah nyaris ini adalah akhir dunia. Perasaan ini sering muncul pada diri kita ketika mengalami kejadian serupa, misalnya nilai ujian kita jelek banget dan kita merasa ini adalah akhir dunia atau kejadian buruk lainnya.
Perasaan yang sama pun akan muncul ketika kurva kebahagiaan yang berwarna merah itu ada di puncak atas, sedangkan kurva kesedihan ada di titik terbawah. Dan biasanya pada saat itu, hidup begitu indah dan rindu selamanya akan seperti ini, apalagi jika kesenangan itu datang setelah kesedihan yang begitu mendalam banget.
Pertanyaan yang sama diulang kembali, apakah kita siap dengan segala kebahagiaan dan kesedihan yang akan menimpa kita? Sudahkah ada cara untuk menyikapinya dengan cara yang baik?
Tidak ada manusia yang dalam hidupnya selalu sial, dan tidak ada juga yang selalu beruntung. Fungsi persamaan hidup sudah memplotkan prinsip keseimbangan terjadi dalam hidup kita. Jika kita bahagia, bersiaplah untuk merasa sedih kelak, dan sebaliknya karena adanya rasa bahagia adalah karena ada rasa sedih, adanya rasa benci adalah karna pernah mencinta, jadi semuanya kekal dan seimbang seperti kurva di atas!. Ya bisa dilihat kalau fungsi persamaan tersebut kita integralkan untuk mencari luasannya, maka total dari kedua persamaan tersebut adalah nol. Hukum aksi-reaksi yang jadi pedoman ilmu rekayasa dalam segala bidang pun menggambarkan kondisi seimbang dan kekal.
Darimana kita tahu batasan diri kita dalam menerima kesedihan dan sejauh mana diri kita mampu tetap tidak lupa diri ketika kesenangan datang? Seperti persamaan pada umumnya, titik ekstrim dapat diketahui dengan mendiferensiasi persamaan tersebut terhadap satu variabel yang dalam hal ini adalah variabel waktu (sumbu-X) atau dy/dx=0, dari persamaan baru tersebut dapat diketahui juga berapa nilai –X yang merujuk pada sumbu-Y ekstrim jika dikembalikan ke fungsi awal persamaan, tetapi karna fungsi ini adalah fungsi osilasi tidak beraturan, maka titik ekstrim hanya dapat diketahui pada satu interval – X yang dapat kita ketahui, sedangkan kita tidak pernah tahu berapa nilai X kedepannya atau kita tidak pernah tahu apakah waktu akan masih ada untuk kita esok.
Maksudnya paragraf di atas adalah kalau manusia hidup selalu dalam ujian yang tersirat dalam senang dan sedihnya. Semua yang kita rasakan, sedih atau senang akan selalu terasa berada pada titik ekstrimnya, nah disaat itulah kita diuji dengan segala keterbatasan untuk tidak dapat mengetahui variabel-X (waktu) kita kedepannya sehingga kita tidak dapat menerka-nerka kapan kesenangan atau kesedihan ini akan berakhir. Jadi, ini mungkin bisa jadi maksud tertentu kalau manusia harus tetap sabar di kala sedihnya dan syukur di kala senangnya. Bersiap untuk sedih ketika kesenangan datang, dan bersiap untuk senang kembali ketika kesedihan itu datang. Mungkin pepatah baru kalau keberhasilan adalah kegagalan yang tertunda bisa jadi boleh dipelajari disekolah agar kita tidak lupa bersyukur dan bersabar.
Mungkin penjelasan di atas masih jauh dari relevan korelasinya antara kurva dengan kehidupan kita sehari-hari, tapi gw sih yakin kalo semuanya yang dipelajarin di sekolahan ada gunanya, mungkin salah satunya itu mensimplifikasi berbagai keadaan dengan mengetahui sifatnya.. Semoga berguna dan tolong diluruskan kalau ada yang salah..
