Back to Me

December 12, 2010

Hey you
So you never really found your way
Stay true
Did you ever make it through today

That when I think about a day without it
Everyday’s the same
You wish that you could find someone
But I’m the only one to blame

Can’t you see
I beg and plead
Cause when your eyes light up the skies at night
I know you’re gonna find your way back to me

No don’t
Don’t you ever let a piece of me down
Cause time won’t
Get back when I’m never around

When we live between so many walls
That I can barely breathe
You say that you just want someone
But I’m the only one you need

Can’t you see
I Beg and plead
Cause when your eyes light up the skies at night
I know you’re gonna find your way

If it’s me
That you don’t need
When the lights go out tonight I know
You’re never gonna find your way

Soon when I get you I won’t let you go
Oooh if I let you
You can take away all that I thought was wrong
And if you hear me there’s not much to say
There’s gotta be a better way

Can’t you see
I beg and plead
Cause when your eyes light up the sky tonight
I know you’re going to find your way back to me

Can’t you see
I beg and plead
Cause when the lights go out tonight
I know you’re never gonna find your way

If it’s me
That you don’t need
That when the lights go out tonight
I know you’re never gonna find you way
If you pace around the world ????????
And when your eyes light up the skies at night
I know you’re gonna find your way back to me

-aar-

Advertisements

I miss that moment so bad!!

November 14, 2010

Bayangkan, “Pegunungan yang hijau dengan sekolah kecil disana dimana Anda adalah pengajarnya. Pagi sejuk berjalan dipenuhi sapa, bertemu anak-anak yang siap dididik. Sore berjalan mendaki melihat matahari tenggelam atau hanya ditutup kabut. Sama indahnya.”

Bayangkan, “Anda bersama sahabat-sahabat Anda bekerjasama mencapai hal yang jauh dari keegoisan pribadi, berusaha menempatkan diri pada posisi yang bermanfaat bagi orang banyak. Penuh keikhlasan. Lalu, Anda duduk bersama dan melihat jerih payah bersama”

I miss that moment so bad!!

 

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita untuk selalu positif thinking dan terus berpikir ke depan, berusaha untuk membuat semua yang terjadi tampak mudah. Bagi siapun yang sedang dilanda masalah apapun itu yang biasanya membuat hati kita begitu resah, pikiran begitu berat, dan lain-lainnya yang membuat kita hidup segan dan mati gamau, mungkin perlu mencari caranya sendiri untuk menyikapi sebuah permasalahan.

Ada beragam cara orang untuk mengatasi masalahnya, dan beberapa di antaranya sangat unit. Ada yang kalau ketimpa masalah, dia akan langsung makan yang banyak banget atau ada juga yang dengan menghaburkan uang untuk belanja barang-barang yang terkadap tidak benar-benar dibutuhkan. Bahkan, ada juga yang spesifik, misalnya langsung aja tidur, siapa tahu pas bangun keadaan berubah, dan ada juga mungkin yang berani bunuh diri! Wah .. jangan sampai itu terjadi sama kita deh..

Intinya mah kalo orang lagi dilanda hal-hal yang ngebuat kita hidup segan dan mati gamau itu, dia pasti ingin mengalihkan pikirannya dari masalah atau dengan kata lain lari dari masalah, atau bisa juga dibilang kalau dia gamau ambil pusing, toh uda ga ada apa-apa lagi yang bisa diusahain. Antara masalah sugesti atau memang itu logika yang masuk akal untuk menghibur diri karena kalau ada masalah, logikanya adalah dicari solusi yang menjawab permasalahan tersebut.

Nah, gw ada sedikit pemikiran tentang bagaimana cara kita mereduksi kegalauan yang melanda hati dan pikiran kita, yaitu dengan menyadari bahwa suka dan duka adalah hal yang wajar dan semua adalah kehendakNya, tapi bagi beberapa orang, hal itu masih sulit diterima apalagi bagi mereka yang  berpikiran terlalu amat sangat eksak sekali. Tuhan tentunya menciptakan ilmu pengetahuan bukan tanpa tujuan, mungkin 1+1 = 2 tidak selalu didefinisikan demikian, tetapi bisa berarti secara kontekstual bahwa dengan bersatu kita akan lebih kuat, dan sebagainya yang kadang-kadang hikmahnya itu nyerempet kehidupan kita sehari-hari.

Tau tentang osilasi kan? Yang ada fungsi trigonometrinya itu, seperti gambar dibawah ini nih :



Dari salah satu prinsip ilmu pengetahuan yang notabene tentunya didapat dari hukum alam yang tentunya juga ciptaan Tuhan YME, yaitu keseimbangan alam atau kekekalan massa atau kekekalan energi yang intinya dari prinsip tersebut menggambarkan kehidupan kita sehari-hari. Memang hanya sebuah analogi sederhana yang disangkutpautkan dan ternyata analogi yang bakal gw sampein ini rasanya cukup masuk akal.

Kembali lihat ke kurva di atas, kurva di atas terdiri atas dua fungsi persamaan yang tidak diketahui nilainya pada setiap titik, tetapi variablenya diketahui, sehingga kita dapat mengetahui dimana titik maksimum atau minimum berada. Kira-kira, hidup bisa dianalogikan seperti itu, kita tidak pernah tahu fungsi persamaan hidup kita yang maksudnya kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, dan seterusnya, tetapi kita diberi kesempatan untuk mengetahui beberapa titik-X sebagai petunjuk sehingga kita dapat merencanakan atau memprediksi dan kemudian kita berusaha. Pedoman kita adalah variabel-variabel yang kita ketahui yaitu waktu (sumbu-X) dan kejadian sehari-hari (sumbu-Y). Maksudnya kita tahu kalau waktu itu terus berjalan dan diberjalannya waktu itu banyak hal yang kita temui apakah suka atau duka, tapi satu hal yang pasti, sayangnya, kita tidak pernah tahu fungsi persamaan kita akan berhenti di sumbu-X berapa dan sumbu-Y berapa.

Lalu, bagaimana kita menyikapi kalau kita tidak pernah tahu dititik sumbu-X berapa kita akan berhenti atau boleh dikatakan mati, melainkan hanya variabel yang diberikan. Ini adalah kekurangan informasi yang harus kita syukuri. Kita tidak akan tahu kapan kita berakhir agar kita manusia tidak berhenti berusaha dan berdoa di waktu yang ada bersama dengan naik turunnya kehidupan kita sehari-hari. Bisa diambil sisi positifnya kalau ini adalah sisi sensasi dari relatifitasnya Einstein yang bisa disangkutpautkan kalau kita tidak akan pernah merasa sangat senang kalau belum merasakan sangat sedih, dan sebaliknya. Seperti halnya siang dan malam aja, manusia tidak akan bisa istirahat kalau tidak mengenal malam.

Kita masuk lebih dalam lagi, di atas tadi uda gw sebut tentang keseimbangan atau kekekalan, nah sekarang mungkin adalah intinya. Coba lihat lagi kurva dua warna tersebut di warna kurva biru identik dengan kejadian-kejadian sehari-hari yang tidak mengenakkan dan kurva warna merah itu identik dengan kejadian-kejadian yang menyenangkan sehari-harinya. Perhatikan titik (0,2), kurva biru berada di atas atau bidang positif, sedangkan kurva merah di bawahnya pada bidang negatif. Maksudnya adalah pas kita sedang sangat sedih yang memuncak pada bidang positif, dan pada saat itu selalu dibarengi dengan keputusasaan kalau kesenangan berada pada titik nadirnya yang sepertinya sudah nyaris ini adalah akhir dunia. Perasaan ini sering muncul pada diri kita ketika mengalami kejadian serupa, misalnya nilai ujian kita jelek banget dan kita merasa ini adalah akhir dunia atau kejadian buruk lainnya.

Perasaan yang sama pun akan muncul ketika kurva kebahagiaan yang berwarna merah itu ada di puncak atas, sedangkan kurva kesedihan ada di titik terbawah. Dan biasanya pada saat itu, hidup begitu indah dan rindu selamanya akan seperti ini, apalagi jika kesenangan itu datang setelah kesedihan yang begitu mendalam banget.

Pertanyaan yang sama diulang kembali, apakah kita siap dengan segala kebahagiaan dan kesedihan yang akan menimpa kita? Sudahkah ada cara untuk menyikapinya dengan cara yang baik?

Tidak ada manusia yang dalam hidupnya selalu sial, dan tidak ada juga yang selalu beruntung. Fungsi persamaan hidup sudah memplotkan prinsip keseimbangan terjadi dalam hidup kita. Jika kita bahagia, bersiaplah untuk merasa sedih kelak, dan sebaliknya karena adanya rasa bahagia adalah karena ada rasa sedih, adanya rasa benci adalah karna pernah mencinta, jadi semuanya kekal dan seimbang seperti kurva di atas!. Ya bisa dilihat kalau fungsi persamaan tersebut kita integralkan untuk mencari luasannya, maka total dari kedua persamaan tersebut adalah nol. Hukum aksi-reaksi yang jadi pedoman ilmu rekayasa dalam segala bidang pun menggambarkan kondisi seimbang dan kekal.

Darimana kita tahu batasan diri kita dalam menerima kesedihan dan sejauh mana diri kita mampu tetap tidak lupa diri ketika kesenangan datang? Seperti persamaan pada umumnya, titik ekstrim dapat diketahui dengan mendiferensiasi persamaan tersebut terhadap satu variabel yang dalam hal ini adalah variabel waktu (sumbu-X) atau dy/dx=0, dari persamaan baru tersebut dapat diketahui juga berapa nilai –X yang merujuk pada sumbu-Y ekstrim jika dikembalikan ke fungsi awal persamaan, tetapi karna fungsi ini adalah fungsi osilasi tidak beraturan, maka titik ekstrim hanya dapat diketahui pada satu interval – X yang dapat kita ketahui, sedangkan kita tidak pernah tahu berapa nilai X kedepannya atau kita tidak pernah tahu apakah waktu akan masih ada untuk kita esok.

Maksudnya paragraf di atas adalah kalau manusia hidup selalu dalam ujian yang tersirat dalam senang dan sedihnya. Semua yang kita rasakan, sedih atau senang akan selalu terasa berada pada titik ekstrimnya, nah disaat itulah kita diuji dengan segala keterbatasan untuk tidak dapat mengetahui variabel-X (waktu) kita kedepannya sehingga kita tidak dapat menerka-nerka kapan kesenangan atau kesedihan ini akan berakhir. Jadi, ini mungkin bisa jadi maksud tertentu kalau manusia harus tetap sabar di kala sedihnya dan syukur di kala senangnya. Bersiap untuk sedih ketika kesenangan datang, dan bersiap untuk senang kembali ketika kesedihan itu datang. Mungkin pepatah baru kalau keberhasilan adalah kegagalan yang tertunda bisa jadi boleh dipelajari disekolah agar kita tidak lupa bersyukur dan bersabar.

Mungkin penjelasan di atas masih jauh dari relevan korelasinya antara kurva dengan kehidupan kita sehari-hari, tapi gw sih yakin kalo semuanya yang dipelajarin di sekolahan ada gunanya, mungkin salah satunya itu mensimplifikasi berbagai keadaan dengan mengetahui sifatnya.. Semoga berguna dan tolong diluruskan kalau ada yang salah..


Sebenarnya gw terinspirasi aja pas nonton Discovery Channel yang sedang menjelaskan bagaimana seekor induk burung mengajarkan anaknya terbang. Gw berpikir, burung itu kan walau bagaimanapun adalah hewan darat, terbang adalah caranya untuk berpindah tempat dan mencari makan. Kemampuan untuk terbang mungkin kekhususan yang diberikan kepada hewan unggas ini. Meski demikian, pada masanya, burung akan mati dan membusuk di daratan, hancur oleh mikroorganisme yang ada di darat. Memang sudah kodratnya bahwa makhluk hidup akan kembali ke asalnya.

Kalau kita membayangkan jadi induk burung tadi, kita pasti juga akan mengajarkan anak kita untuk terbang, bahkan terbang lebih hebat dari kita sendiri agar mampu mencari makan lebih baik lagi. Anggap saja, anak kita yang baru lahir tadi, masih berupa telur dan anak burung yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada kita sebagai induknya. Anak kita hanya menciap-ciap meminta cacing atau makanan kecil lain. Pada waktunya, anak ini akan semakin besar, bulu di sayapnya sudah mulai tumbuh dan besar. Dalam hati, induk burung pasti sudah mengetahui kalau saat ini adalah waktunya si anak untuk diajarkan terbang. Mungkin yang dirasakan oleh induk burung tadi kalau demikian anaknya sudah diajarkan terbang, tentu dia akan segera pergi, terbang, membentuk koloni baru entah dimana, dan dilupakanlah si induk burung tadi sebagai ibu yang selama ini memberi makan dan mengajarinya “untuk meninggalkan” si ibu.

Si anak burung tadipun akhirnya perlahan – lahan mampu terbang rendah setelah dilatih sekian lama oleh si ibu tersebut. Awalnya hanya bisa terbang rendah dari dahan ke dahan pohon, lalu dengan semakin lebatnya bulu di sayap dan berkembangnya pundi-pundi hawa, titel anak burung yang selama ini melekatpun harus segera dicopot menjadi burung dewasa yang secara stamina seharusnya dapat lebih handal terbang daripada induk yang mengajarkannya.

Satu hal yang gw belum pernah lihat di Discovery Channel, kartun, atau acara TV apapun adalah tidak ada induk burung yang mengajarkan anaknya apa yang harus dilakukan bilamana terjatuh ketika terbang. Jika memang benar demikian, apa maksudnya? Apakah induk burung tersebut tega membiarkan anaknya terjatuh ketika terbang, ketika ada pemangsa burung dengan ukuran lebih besar yang mengintai. Dan kalau memang benar-benar seperti itu, pupuslah kesempurnaan dari menikmati pemandangan darat dari atas langit, hilang deh kesempurnaan dari penglihatan yang lebih luas dengan jangkauan tak terbatas dari udara, dan hilang jugalah kesempurnaan-kesempurnaan lainnya.

Tapi, gw juga baru inget kalau bagaimanapun burung adalah hewan darat, artinya tidak ada kodrat yang dilanggar, semua yang ada pada di burung apakah itu kemampuannya untuk terbang dan kesempurnaan lainnya menjadi tampak sangat logis jika memang kenapa si induk burung tidak mengajarkan anaknya bagaimana untuk terjatuh, agar si burung ini ingat kodratnya, bahwa sejauh kemanapun pergi, darat adalah tempatnya hinggap dan akhirnya juga mati disana.

Tapi, gw juga bohong, bohong kalo gw membandingkan, kita manusia dengan hewan burung. Kita manusia tidak diajarkan terbang, apalagi diajarkan untuk jatuh. Apakah itu artinya kita ga lebih baik dari burung tadi?

Hmmm..menurut gw, bagaimanapun burung ga bisa dibandingkan dengan manusia karena kodratnya sudah berbeda, tetapi dari burung tadi kita dapat ngambil banyak contoh kalo manusia itu jauh lebih sempurna daripada burung. Kalau induk burung mengajarkan anaknya terbang untuk mencari makan, ibu kita mengajarkan kita untuk terbang mengejar mimpi dan cita-cita yang tidak ada batasnya dengan memberi kita kasih sayang, pendidikan,dsb. Jadi, ibaratnya kalau burung hanya mampu terbang setinggi lapisan atmosfer yang ia mampu tembus, manusia dengan mimpinya dapat terbang melebihi lapisan atmosfer terluas hingga tak berhingga. Ada yang sama, kita mungkin akan meninggalkan ibu kita ketika kita berangkat terbang mengejar cita-cita atau impian kita tadi.

Kalau induk burung tidak mengajarkan bagaimana untuk terjatuh, kita manusia gak seperti itu. Satu lagi kebohongan gw tadi ketika membandingkan manusia dengan burung. Ibu kita, tidak pernah lupa mengatakan kata-kata yang kira-kira seperti ini “kejarlah cita-citamu dimanapun dan ingat selalu dengan TuhanMu”. Dari kata ingat selalu dengan TuhanMu pasti mengandung banyak makna, misalnya jangan lupakan ibadah kita, jangan lupakan keluargamu, jangan lupakan orang-orang disekitarmu. Jangan melupakan hal-hal tersebut bukan berarti adalah sebuah kewajiban  kita untuk membalas jasa budi atau sebangsanya, tetapi itu jadi kebutuhan kita agar selalu ingat untuk berhati-hati atau dengan kata lain ibu kita sedang mengajarkan kita untuk tidak terjatuh ketika “terbang” tadi. Bahwa, kita bisa terbang kemanapun kita mau mengejar cita-cita atau impian kita, mungkin banyak tantangan, suka dan duka, yang mampu menjatuhkan, tetapi akan selalu ada keluarga dan orang-orang disekitar kita yang selalu siap sedia menjadi tempat berpulang untuk beristirahat, untuk menangis mungkin, atau yang lainnya yang pasti adalah hal-hal yang membuat kita tidak benar-benar terjatuh ketika terbang, melainkan hanya istirahat sejenak di darat.

Selamat Ulang Tahun,Lia

April 13, 2010

Usiamu menginjak 16 tahun. Anak tangga pertama dari kehidupan akan segera kamu masuki. Semoga langkahmu tetap kuat menapaki tangga-tangga berikutnya.

Untuk adikku, Amalia Rachma Pertiwi yang hari ini, 13 April 2010 memasuki usianya yang ke-16.

Padanya, saya dapat berkaca dan belajar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya sebagai salah satu anggota keluarga, apalagi sebagai kakak. Hingga saat ini, saya merasa belum mencurahkan kasih sayang saya kepada adik saya. Sering sekali saya mengacuhkan adik saya, padahal mungkin hanya saya saja satu-satunya kerabat kandung yang seharusnya dapat menjadi tempat curahan hatinya. Bahwa, ia boleh pergi kemanapun, dan harus mengetahui bahwa ada kami sekeluarga dirumah tempatmu kembali ketika ia lelah, ketika ia ingin menangis

Semoga kelak, Lia menjadi remaja yang dimana ada diri Lia membawa petunjuk bagi teman-teman disekitar Lia

Semoga kelak, Lia menjadi wanita yang menjadi penjaga nama baik keluarga dan simbol penjaga kehormatan dan kemuliaan seorang wanita

Semoga kelak, Lia menjadi ibu yang membawa kehangatan ke dalam keluarga yang dimana keberadaan Lia akan menentramkan keluarga

Semoga kelak, Lia akan menjadi orang yang tangguh dan lembut disaat yang sama. Cukup kuat untuk melangkah, namun cukup lemah bagi siapapun sehingga banyak orang disekitar Lia ingin selalu menyayangi dan melindungi.

Amin.

Keinginan manusia akan selalu terucap dalam doanya bagi ia yang beriman dan meyakini bahwa Allah SWT –lah tempat bermohon dan meminta pertolongan. Manusia bersimpuh dalam solatnya, menundukkan kepalanya, bahkan hingga menitikkan air mata, bahkan menangis deras. Keinginan yang  luar biasa besar seperti harus segera didapatkan.

Dalam hidupnya, manusia memang akan selalu berkeinginan, apapun itu. Percaya kalau semua keinginan kita pasti dikabulkan oleh Allah SWT sesuai janji Allah sendiri, manusia mengutarakan keinginannya bahkan yang bersifat keduniawian sekali atau terkadang manusia tidak sadar bahwa doa yang diutarakan sudah disadari adalah doa yang tidak baik bagi dirinya, misalnya memohon agar segera nyawanya dicabut, dan sebagainya.

Pertanyaan mendasar muncul ketika ditanya, besar mana kecintaan kita pada isi doa kita atau kepada Allah SWT tempat kita meminta. Pertanyaan ini pun terkadang membuat saya terdiam dan menjadi merasa bersalah ketika berdoa karena terkadang saya terlalu egois dengan keinginan saya, seolah-olah harus segera dikabulkan, padahal ada yang saya lupa, saya tidak yakin jadi seberapa besar rasa cinta atau keinginan saya untuk dekat dengan Sang Pencipta.

Berapa orang yang memohon misalnya kekayaan yang melimpah atau calon istri/suami yang cantik hingga keinginannya itu menjadi motivasi utamanya dalam beribadah, agar dapat memanjatkan doanya tersebut. Tapi, berapa orang yang beribadah dan berdoa dengan motivasi untuk mencari ketenangan berdekatan dengan Allah SWT dan memohon sesuatu bagi kebaikan orang lain juga, selain dirinya sendiri.

Hal ini memang sangat fundamental karena mencerminkan kadar kepicikan, kerakusan, ketamakan pada diri manusia. Sungguh jangan sampai hal itu menutupi hati kita. Semoga ketika suatu saat kita lalai, Tuhan memberi kita peringatan dengan cara terhalus-Nya. Agar kita tidak dibutakan oleh keinginan duniawi kita, agar doa itu dapat dikabulkan. Amin.

Run for Love & Life

April 8, 2010

Seandainya hidup adalah wadah, maka cinta adalah buahnya. Dua hal yang mungkin menjadi harapan besar dari semua orang untuk dicapai dan dinikmati dalam hidupnya agar lebih bermakna. Kita semua mengejar yang terbaik pada keduanya, namun akhirnya ternyata tidak semudah itu karena cinta tidak semudah itu dipahami dan hidup tidak semudah itu dijalani.

Pemahaman cinta tidak semudah mengartikan perasaan beda yang datang adalah cinta. Butuh waktu dan proses yang seringnya adalah menyakitkan hingga akhirnya kita memahami, bahkan kadang orang rela mati memperjuangkannya. Demikian juga hidup, tidak semudah membalikkan tangan karena hidup bukan masalah dewasa atau tidak cukup dewasa untuk mulai memahaminya. Helaan nafas pertama adalah awal hidup yang harus diakhiri pada helaan nafas terakhir.

Apakah diri kita sudah siap untuk akhirnya mulai mengejar kedua hal tersebut? Sudah cukup memahaminya kah? Sudah cukup persiapannya kah?

Seandainya kita adalah seekor burung, terbang adalah hidup kita

Terbang adalah alasan adanya sayap ini.

Pernah terpikirkan seandainya kita terbang dan jatuh? Tidak tahu karena memang kita tidak pernah diajarkan untuk jatuh!

Oh, ternyata bukan itu saja, kita justru mati ketika hinggap di dahan manakala ada seekor ular besar mengintai

Seandainya kita adalah seekor ikan, berenang adalah juga hidup kita

Berenang adalah alasan adanya insang dan sirip ini.

Kita pun akan mati jika tidak pernah berhenti berenang manakala seekor hiu atau baling-baling kapal mendekat

Kita bisa seperti mereka, tapi, saya bohong, karena kita bukan burung, apalagi ikan! Kita tidak pernah bersayap apalagi berinsang… kita pasti jatuh dan mati ketika memaksakan diri mengepakkan tangan kita turun dari gedung 100 lantai. Kita juga pasti akan mati ketika memaksakan diri ketika menenggelamkan diri di lautan pasifik. Bodoh jika ingin disamakan dengan burung atau ikan itu. Namun, kita dapat terbang setinggi-tingginya dengan impian di kepala kita, bahkan dapat berenang sedalam-dalamnya lautan dengan hati kita. Tak perlu takut untuk jatuh ketika impian membawa kita terlalu tinggi karena ada hati yang telah mampu menguasai lautan terdalam. Tak perlu takut untuk mati kehabisan nafas dilautan terdalam ketika impian kita mampu mengangkat kita lagi menghirup udara.

Ketika burung saja berani terbang sementara kita lebih baik dari mereka, sayangkah jika kita hanya berdiam saja dan tak punya impian?! Sayang sekali karena kita dibekali kemampuan untuk takut dan harap. Sebuah potensi yang kontradiktif, takut akan kegagalan, dan berharap akan keberhasilan. Karena menurut saya, di sanalah letak syukur dan sabar berada ketika mengejar impian kita.

Mau Tak Mau

April 1, 2010

Apa yang bisa aku lakukan
Jika ia memilih untuk tak ringgal
Dan semua trus berjalan

Getirnya harus tetap kutelan
Dan aku sakit harus tetap bertahan
Dan semua trus berjalan

Mau tak mau ku harus
Melanjutkan yang tersisa
Meski semua telah berbeda
Dan tak akan pernah ada yang sama

Aku bisa memeluknya
Tetapi tidak hatinya
Hooo… Menyakitkan

Semua telah dengar
Segenap hati ku merindunya
Tapi hatinya telah pergi dan telah lama mati

Mau tak mau ku harus
Melanjutkan yang tersisa
Meski semua telah berbeda
Dan tak akan pernah ada yang sama

Semoga angin berhembus
Membawakan mimpi baru
Meski ku tahu takkan pernah ada
Yang sanggup mengganti keindahannya

-Jagostu-